Sabtu, 19 November 2011

BLEACH

Akhir-akhir ini, saya luar biasa suka sama manga aliran shounen ini. Sebelumnya saya lebih berminat pada aliran shoujo, jadi, kontras bedanya. Terutama BLEACH karya Kubo Tite  ini.

Maybe this is otaku's talk, so sorry if you aren't one of 'em.

Umumnya, komik shoujo sangat sensitif dalam hal... percintaan. Banyak komik shounen yang ber-genre romance, tapi untuk BLEACH ini... tidak begitu. Aku bukannya berganti minat. Se-mustahil-mustahil-nya cerita sebuah komik, pastinya masih berhubungan dengan kehidupan. Dan kehidupan itu lekat dengan cinta *apa banget.

Now, I think hidden feelings' more interesting. And that's what makes BLEACH feels different.
More artistic, more fun, more exciting. And always make me smile or cry just because read them.

Kejadian, tindakan, perkataan, bahkan tatapan mata yang sederhana pun, .... maknanya sangat dalam. Setelah mengenal BLEACH, aku belajar lebih sensitif. Biasanya aku tidak suka membaca alias menyimak adegan pertarungan, tapi untuk BLEACH, aku mengamati dengan seksama, karena sang komikus menggambarkannya dengan jelas dan mudah dimengerti.

Artistik. Aku suka sisi dari sang komikus ini. He's wonderful at expressing things and that's a plus for him. I really envy him.

And so... akhir-akhir ini, di kepala saya hanya ada BLEACH. BLEACH. dan BLEACH. Makanya, waktu TO tempo hari saya was-was lupa pelajaran. Takutnya malah ingat BLEACH dan dua tokoh utamanya :)



And? Yes, I fell in love with those two, for being together in their hearts :')

Sorry for my bad bad English...

Kamis, 25 Agustus 2011

Kultum di Suatu Hari

Kalau tidak salah, hari itu tanggal 16 Agustus 2011.


Ba'da sholat Zhuhur, Masjid Ulul Albab, SMP Islam Plus Baitul Maal.


Waktu sudah menunjukkan waktu pulang, lebih tepatnya waktu Pertemuan Wali Kelas. Namun kultum belum diperdengarkan. Tadinya Pak Halim ingin langsung menutup acara --bisa dibilang 'Jelang Siang', mungkin-- tanpa mendengarkan kultum, namun siswa-siswa ikhwan berseru:


"Kultum-nya bagus, Pak!"


Dan akhirnya, kultum tetap terlaksana. Seorang siswa maju mengisi kultum.
Aku jadi penasaran, apa iya kultumnya bagus (nggak maksud meremehkan kok, cuma jarang aja ada kultum yg bagus wkwkwk).


Awalnya aku benar-benar memerhatikan. Namun setelah kalimat-kalimat pertama (setelah pembukaan), mataku melebar dan aku menunduk.


Perasaanku tiba-tiba kacau. Aku tidak mau mendengar ini.


Perasaanku sangat kacau secara tiba-tiba, hingga aku lupa cara penyampaian kultumnya.
Yang kuingat hanyalah:


Menggambar itu dilarang dalam Islam.
Kita sebagai muslim hanya boleh menggambar benda mati seperti pohon.
Apabila di dunia kita menggambar makhluk hidup, maka di akhirat nanti kita akan diminta untuk memberikannya nyawa.
Barangsiapa yang di rumahnya terdapat gambar-gambar, maka malaikat enggan memasukinya.


Pelukis akan masuk neraka.


Hatiku sakit. Mungkin berlebihan, tapi itulah yg kurasakan. Ekspresiku saat itu... ah, aku nggak tau lagi. Mungkin tingkahku seperti tokoh Lee Soyeong (Jang Nara dalam "Babyfaced Beauty"), salah tingkah. I like that expression from her.


Aku suka menggambar. Sangat, sangat suka. Dari kecil, menggambar selalu menjadi hobiku, meski kadang aku tidak menyadarinya.

Aku selalu mengungkapkan perasaanku lewat gambar. Kalau sedang senang, aku menggambar karakter dengan wajah ceria. Dan kalau sedang sedih, aku menggambar karakter yang sedang sedih, bahkan menangis --sebagai pengganti diriku.


Dan sekarang kultum itu bilang kalau selama ini yang kulakukan adalah salah. Jujur saja, sulit sekali menerimanya.


Sebenarnya, aku tahu kalau menggambar itu nggak boleh. Saat itu aku masih kelas 5 SD, dan gambarku masih berbeda. Dulu karakter yg kugambar tidak memiliki hidung, karena aku merasa aneh kalau ada hidung. Aku bukan penggambar hidung yang baik. Jadi, waktu itu kupikir 'kalau tidak sempurna, nggak apa-apa, kan?'


Namun sekarang, aku tertantang untuk menggambar hidung dan telinga. Masa' gambarku tidak meningkat selama bertahun-tahun? Tentu saja, bagi seorang pelukis, itu memalukan.


Barangsiapa yang di rumahnya terdapat gambar-gambar, maka malaikat enggan memasukinya. 


Aku teringat kamarku yang penuh dengan manga alias komik Jepang. Sebenarnya sih nggak penuh-penuh amat. Tapi aku nggak tega membuangnya.

Setelah kultum, aku ingin menangis. Tapi nggak bisa. Aku hanya bisa menahannya, sementara ada ikhwan yang berseru:


"Denger, tuh! Menggambar itu nggak boleh!"


Aku tambah sedih. Kurasa aku bisa menangis di rumah nanti.

Tapi aku nggak mau jadi lemah begitu. Sepulang sekolah, tepatnya sebelum tidur malam itu, aku jadi sangat bersemangat menggambar. Alias melanjutkan karya yang selalu lambat update (ce'ilah sok banget dah).


Sampai sekarang aku masih sedih, namun aku justru berterimakasih pada kultum itu.


Terima kasih, karena berkat kau semangat menggambarku jadi naik drastis.

Pernah Merasa Cukup?

Udah lama banget nih nggak nge-post... Maklum, saya pemalas dan pelupa (tiap kali mau nge-post, lupa teruus). Setelah membaca judul post ini, kesannya saya lagi galau ya? Nggak juga kok *siapa peduli*

Hafizhoh Nur Azimah adalah seseorang yang selalu dihantui PENYESALAN.

Kenapa tadi aku begini? Kenapa aku begitu? Harusnya aku nggak ngomong begitu! Harusnya...

Penyesalan selalu datang di akhir. Kalau tidak datang di akhir, namanya BUKAN penyesalan *ini orang ngapain sih*

Penyesalan itu membuatku membenci diri sendiri, dan perlahan-lahan membuatku merasa NGGAK PENTING. Aku tahu aku tidak boleh begini, tapi aku tak bisa memungkiri kenyataan bahwa aku SELALU menyesal.

Maafkan aku kawan-kawanku, saudara-saudaraku, dan semua orang yg mengenalku... Aku punya banyak banget kesalahan pada kalian. Dan, aku selalu menyesalinya. Sungguh.

Pernahkah kamu merasa cukup? Kita pasti menginginkan yang lebih, lebih, dan lebih.

Kadang aku takut berharap dan bermimpi. Takut dikecewakan, takut mempermalukan diri sendiri.

Galaunya cukup sampai di sini, ya? Hehehe.

Tampang Tua

Sebagai pembukaan, aku punya pertanyaan:

"Apakah saya kelihatan tua?"

Agak konyol memang. Awalnya aku tidak ambil pusing, tapi lama-lama... Ahh~ :(

Biar ngerti, saya mau cerita dulu nih.

Kamis, 11 Agustus 2011 @ Masjid Sektor Sembilan Bintaro

Aku, Dea, Alifa, April, dan Talitha mau minta izin mabit di sini. Setelah itu, kami ikut sholat Ashar berjama'ah. Aku sholat di samping kiri seorang Ibu yang tak kukenal, sementara Alifa, Dea, dan April di samping kiriku.

Setelah sholat, aku bersalaman (dalam bahasaku: salim) dengan Ibu itu.
Ibu itu bertanya padaku:

"Santri di mana, mbak? Anak kuliah, ya?"

Aku sedikit terkejut (bengong sebentar), lalu menjawab.

"Eh? Saya masih SMP, Bu."
"Ooh..."

Jujur saja aku malah senang, karena berarti aku bisa bersikap dewasa. Tapi begitu kuceritakan pada yang lain, mereka tertawa terbahak-bahak dan berseru:

"Tampang tua!" sambil menunjukku. Jadi sedih (wkwkwk)

Ini baru yang pertama. Ada lagi nih.


Selasa, 23 Agustus 2011 @ depan Pos Satpam Komplek

Aku sedang menemani Alia (my little sister) jalan-jalan. She was soo excited.
Tiba-tiba Pak Satpam datang dengan motor. Setelah turun, beliau tersenyum pada kami. Aku balas tersenyum.
Beliau bertanya tiba-tiba, sambil menunjuk Alia:

"Anaknya sampeyan?"

JLEB!
Sungguh, dalem banget. Aku terdiam sebentar, lalu menjawab,

"Bu-bukan, adik saya..."
"Ooh..."

Ternyata masih belum cukup. Sedihnya, masih ada satu lagi.


Selasa, 23 Agustus 2011 @ Masjid At-Tawwab (Al-Bayan Islamic School)

Ada acara Ifthor Jama'i di sekolah Musyaffa', dan kami sekeluarga sekalian mau ke Giant setelah mengantarnya ke sekolah. Waktu Ashar tiba tak lama setelah kami sampai di sana, jadi kami ikut sholat berjama'ah di masjid ini.

Adzan Ashar sudah berkumandang, jama'ah mulai berdatangan. Aku sedang menemani Alia jalan-jalan keliling masjid. Dan seorang anak perempuan berbaju putih menghampiri kami.

Dia gemes banget sama Alia, dia senyum dan sambil mendekap Alia, di bertanya padaku:

"Tante, ini adiknya siapa?"

JLEEBB..........

Aku kesal, tapi mau bagaimana lagi. Aku jadi salah tingkah dan refleks menjawab "adikku". Padahal aku tahu maksudnya 'siapa' itu, yaa, siswa Al-Bayan.

Setelah mendengar jawabanku, sepertinya dia merasa bersalah. Lalu dia berkata, "ooh, Kakak sudah SMP, ya."

Kurasa dia berusaha menghiburku. Setelah itu, dia menggendong Alia dengan senang. Setelah itu, dia bertanya padaku:


"Tan-- Kakak nggak sholat?"

Duh, sesulit itukah memanggilku 'kakak'?

Yah~ begitulah.
Kejadian ini terjadi bertubi-tubi, dan membuatku heran.

Mungkin tampangku memang tua... *pasrah

Sabtu, 21 Mei 2011

"Our Story"

(Assalamu'alaikum...)

Hiks...
Hiks...
Hikss...

Huwaaaaaaaaaaa~! TT_TT
*gaje mode: on*

Sebelum mulai curhat, saya mau menceritakan... hmm... 'kejadian' di perpustakaan SMPIP Baitul Maal, pada hari Sabtu tgl 21 Mei 2011.

Saya: "April, 'Our Story'-ku masih di kamu?"

April: "Eh? Nggak ada di aku, kok.
           Kalau nggak salah, waktu kita ke 'Pecel Pincuk Godong Ijo', setelah kamu kasih ke aku, ada seseorang yang minjem (mau liat) di ayunan."

Saya: "Terus...."

April: "Setelah itu, dia nggak ngasih aku lagi... Siapa, ya..? Aku lupa..."

Saya: *wajah setengah mau nangis*
Jangan-jangan ketinggalan di ayunan itu??


Huu... Huu... Huu...

"Our Story".

Novel karangan Orizuka-sensei yang merupakan novel remaja pertama yang kupunya.

Hilang?
Atau ada di tangan orang yang tidak bertanggungjawab sehingga tidak mengembalikannya padaku? Atau setidaknya pada April?

Haruskah hilang?
Meski terbilang cukup tipis untuk sebuah novel, tapi... tapi... aku suka ceritanya. Kenapa harus hilang?

Aku mohon, kepada siapapun yang mengetahui keberadaannya:

Tolong kembalikan "Our Story" kepadaku. Atau setidaknya...
Biarkan aku melihat keadaannya untuk sebentaaar saja... :'(

(Wassalamu'alaikum)

Selasa, 17 Mei 2011

Sepulang Supercamp

Assalamu'alaikum, annyeonghaseyo~! ^^/

Saya mau sharing mengenai 'kehidupan' saya setelah Supercamp. Hmm, karena 'transit' (yah.. bahasanya dicakepin dikit lah ;P ) di pom bensin selama 30 menit, kami AKHIRNYA sampai di sekolah tercinta, SMPIP Baitul Maal, sekitar jam setengah sebelas malam Waktu Indonesia Barat.

"Bangun, bangun! Sudah sampai!"

Seruan Bu Anis, Bu Ayu, dan Pak Edy berhasil membangunkanku.

"Ireona, ppali ireona!"

Rupanya tidurku cukup nyenyak. Aku nggak pusing maupun pegal-pegal. Aku langsung mencari-cari sepatu, memakainya, dan turun dari tronton Angkatan Laut yang jadi kendaraan kebanggaan Supercamp. Lapangan sekolah sudah ramai akan orangtua/wali murid yang datang untuk menjemput. Aku mencari-cari Abi, dan refleks memegang kepala. Begitu mendapati slayer di kepala, mataku melebar dan langsung melepasnya, malu diliat orang (ge-er amat?).

Aku mengamati guru-guru dan beberapa murid yang sibuk menurunkan barang. Bingung mau ngapain. Akhirnya aku mendekati Bu Endang, Bu Asnah, dan Bu Rina, hendak mengambil teh jatahku. Setelah menghangatkan diri dan bertemu Abi, aku mencari-cari barangku. Repot banget... Aku meletakkan tikar Wafa di TU, meletakkan bungkusan kado di loker, mulak-balik mencari barang. Aku capek, tapi nggak boleh egois memikirkan diriku sendiri. Abi menungguku, jadi aku harus cepat.

Setelah akhirnya masuk ke mobil, tidak lama setelah perjalanan pulang dimulai, aku tertidur. Sampai rumah jam setengah 12 malam. Bukannya tidur, aku langsung merapikan barang-barangku. Menaruh baju-baju kotor di ember, mengeluarkan sisa snack dari ransel, pokoknya samapi ranselku kosong. Kemudian aku masuk ke kamar mandi membawa ember baju kotor, dan langsung menggosoknya. Yang kupikirkan hanya untuk segera menyelesaikan urusan barang, biar bisa tidur pulas esok hari. Jam 2 dini hari, aku keluar dari kamar mandi (tentunya dalam keadaan sudah mandi), tapi belum menyelesaikan urusan baju kotor. Baju kotor masih menumpuk, tapi aku sudah mencuci sepatu yang luar biasa kotor.

Ummi sudah bangun dan bertanya padaku, "kamu jadi mau ikut, tidak? Kalau tidak, kamu sendirian di rumah." Oh, no. Musyaffa' memang sedang menginap di rumah Oma, jadi sekarang dia tidak ada di rumah. Aku mau ikut... Hanya itu yang kupikirkan. Bukannya takut sendirian, tapi aku kangen sama Alia, si bungsu yang sudah 3 hari tidak kujumpa. Alasan konyol, bukan? Karena tidak merasa ngantuk, aku langsung berpakaian dan tidak lama kemudian, Kak Amalia dan Kak Aisyah beserta keluarga datang ke rumahku.

Ya, hari itu, Sabtu tanggal 7 Mei 2011, adalah hari tes masuk IC, yang berlokasi di MAN 2 Serang. Abi, Ummi, Alia, aku, Mbak Fildzah, berangkat bareng Kak Amalia, Ummu Kak Amalia, Kak Aisyah, dan Ummu Kak Aisyah. Lokasinya cukup jauh, jadi saya bisa tidur di perjalanan, hehehe :D

Selama menunggu tes yang berlangsung hampir 12 jam itu, saya dan keluarga (kecuali Kak Fil) istirahat di hotel mini yang namanya saya lupa (parah.com). Begitu lihat tempat tidur, Alia senang bukan main. Kayaknya dia sudah sangat lelah, sampai senang begitu (_ _)a
Di hotel, saya tidur 3 jam.

Di perjalanan pulang, Kak Mamal sibuk  mendengarkan lagu Korea dengan headset-nya. Meski sebenarnya musiknya bisa terdengar sampai saya yang cukup jauh dari Kak Mamal. Aku sempat cerita soal Supercamp tahun ini, dan kami berempat jadi sibuk ngobrol. Yah, tentu saja semua penghuni mobil pasti bisa mendengar obrolan kami. Seneng juga, saya jadi nggak tidur.

Hmm... Kalau dijumlahkan, saya tidur selama 12 jam. Pergi nggak pergi, sama saja, kan? Wkwkwk :P

Hm, rasanya curhat saya cukup sekian. Sampai bertemu di lain kesempatan,
Wassalamu'alaikum.

"FATE"

Assalamu'alaikum~! :D
Akhirnya tiba juga... My come back! :D (baru datang udah lebay)
Kali ini saya akan mengungkapkan sedikit pendapat saya mengenai sebuah novel. Yaa, kali-kali saya nge-review buku :P  And here's the book:

Judul buku : FATE
Pengarang : Orizuka
Penerbit : Authorized Books
Tebal buku : 293 halaman

Akhirnya saya baca novel remaja Indonesia bernuansa Korea Selatan lagi. Setelah membaca "SeoulMate"-nya Lia Indra Andriana sensei, saya membaca "FATE" ini. Sebenarnya saya sudah mencari buku ini sejak membaca resensi Frey-san. Jeongmal kamsahamnida~! m(_ _)m

Setelah membaca resensi tsb., saya jadi penasaran dan mau beli. Sebenarnya saya juga menginginkan novel Orizuka-sensei yang bernuansa Jepang, "Fight for Love!". Tapi ndak ketemu-ketemu... -,- yah, mungkin bukan jodoh (lho??!). Hehehe

Pertemuan kami (saya dan FATE) berawal di toko buku terbesar di Asia Tenggara: Gramedia Matraman. Aku memasuki wilayah komik, novel, dsb. Dan begitu melihat novel ini, saya terpaku melihat novel pinky yang rasanya familiar itu. Dan perlahan mendekati dan mengambil satu dari sedikit koleksi novel yang sama. Begitu mengambil novel pinky itu, ternyata rak buku itu bergeser membentuk pintu rahasia! Lho, kok jadi begitu? Gomen gomen, saya lagi suka berimajinasi, maklum lah, anak muda (masa', sih?! -_-)

Oke, back to serious mode.

Saya juga menemukan novel Orizuka-sensei yang lain, seperti "17 Years of Love Song", "The Truth About Forever", "Our Story" (yang ini saya sudah punya ^^), tapi... nggak ada "Fight for Love". Sedihnya... saya langsung mewek. Tapi ndak papa, ada "FATE" sudah cukup.

Selama libur UN kemarin, saya lagi mooooood banget baca novel. Sayangnya, nggak ada yang bisa kubaca. Nah, setelah membeli FATE di hari Ahad, 24 April 2011 kemarin, mood baca novel saya meredup (ce'ilah). Makanya, proses membaca novel ini, tuh, lamaaaa banget. Masa' saya baru selesai baca hari Ahad, 15 Mei kemarin? Makan waktu 3 pekan! WOW.

Dan setelah selesai membaca FATE, saya nggak nyesel beli! Keren banget!

Selain cerita romansa-nya yang ku suka, yang bikin kaget, saya juga suka kekeluargaannya. Tumben benget saya suka hubungan kakak-adik (eits, sesama cowok, lho), seperti Jang Min Ho dan Jang Min Hwan. Yup, nama kedua tokoh utama ini diambil dari nama Choi Min Ho (SHINee) dan Choi Min Hwan (FT Island). Pokonya, saya suka banget sama novel ini, karena selain ceritanya yang seru, juga menambah kosakata bahasa Korea saya. Terima kasih banyak, Orizuka-sensei! m(_ _)m

Bagi yang penasaran, here's the official synopsis:

Jang Min Ho dan Jang Min Hwan.
 Dua putra Keluarga Jang yang terpisah selama bertahun-tahun, sekarang harus bertemu kembali untuk mendengarkan wasiat ayah mereka yang telah meninggal dunia.

Jang Min Ho, terlahir sebagai anak dari istri yang sah, hidup serba berkecukupan di Indonesia. Sementara itu, Jang Min Hwan terlahir sebagai anak dari seorang pelacur, hidup susah di Korea.

Demi mendapat segala kekayaan Keluarga Jang di Indonesia, dua putra Keluarga Jang harus memnuhi segala permintaan ayah mereka di dalam surat wasiat, termasuk tinggal bersama di rumah Keluarga Jang. Rasa dendam, sakit hati, dan masa lalu yang pedih membuat kedua kakak-beradik ini lebih mirip seperti orang asing.

Kehadiran Dena, anak gadis kepala pelayan yang juga adalah teman masa kecil mereka, berhasil membuat mereka kembali bersatu. Tapi di saat mereka akhirnya merasa sudah mampu melewati masa itu, ternyata nasib berkata lain.

Nasib.
Ketetapan Tuhan.
Sesuatu yang tidak bisa diubah dengan tangan manusia.

Bagaimana Jang Min Ho dan Jang Min Hwan menghadapi nasib mereka? Sanggupkah mereka mengubahnya?


Kalau mau tahu lebih jauh, baca sendiri, ya! Hehehe.

Hari Ahad kemarin, saking serunya membaca novel ini, saya maksa baca di mobil gelap-gelap, dengan penerangan HP. Wkwkwk, jadi dimarahin Ummi, deh... :P

NB: saya dapat emoticon baru dari Orizuka-sensei: m(_ _)m
Hehehe, izin pakai, ya, Orizuka-sensei? ;)

So, cukup sekian dari saya. Hmm, terakhir, saya suka cerita romansa di novel FATE ini karena saya memang suka cerita percintaan. Eit, tapi saya nggak mengharapkan keadaan ini ada di dunia nyata, lho! Fiction only!

Kamsahamnida, jeongmal jweisonghamnida atas kekurangannya. annyeong~! \^^/ (akhirnya ngikutin NS Yoon-ji)
(maaf, bahasa Korea saya masih ngaco)

Wassalamu'alaikum.

Selasa, 01 Maret 2011

My Holiday



A
ssalamu’alaikum… Alhamdulillah akhirnya bisa nge-post lagi nih… Tanggal 16 Desember lalu, liburan akhir semester ganjil dimulai. Liburan lalu rasanya berlalu dengan sangat cepat. Dalam waktu 2 pekan itu, saya tidak benar-benar berlibur… -_- Tidak pulang kampung karena ndak punya kampung, dan nggak jalan-jalan. Tapi, bagi saya itulah yang namanya liburan… :D



Selain malas-malasan di rumah (hehe), kegiatan saya adalah mentoring bersama teman-teman tercinta, Khaulah.  Mulai dari mentoring biasa, agenda bedah film, nonton bareng, fitness, dan rihlah. Tapi untuk fitness, saya tidak ikut karena saat itu Ummi sedang sakit…

           
Bedah film pada tanggal 18 Desember 2010, nonton bareng tanggal 19 Desember 2010, dan rihlah tanggal 29 Desember 2010. Waktu berlalu dengan sangat cepat, benar-benar tidak terasa.
            Untuk bedah film, berlokasi di rumah mentor terhormat kami, Ustadzah Nanik. Kami menyaksikan film dari negeri Jiran Malaysia, Syukur 21. Bukannya tenang, kami malah rame nonton film religius yang harusnya ditonton penuh ketenangan. Wkwkwk... Saya aja sampai senyum-senyum sendiri... :D hehe. Setelah menonton, kami membahas hikmah yang dapat dipetik dari film tersebut. Syukron atas DVD-nya, Ustadz Malik…
            Lalu nonton bareng. Kami menyaksikan film “Dalam Mihrab Cinta”. Gratis lho! Hehehe. Ya, kebetulan masih masa promosi. Jam 10 kami sampai di Blok M Square, benar-benar sepi dan lampu-lampu yang menyala sangat sedikit. Seperti bukan mall saja... -_-' Dan kali ini, saya, Dea, dan April sibuk senyum dan cekikikan sendiri sambil mengikuti alur cerita film... (malah jujur, kaki saya nggak bisa diam nahan ketawa (hehe)). Habis nonton, Khaulah makan bareng di D'COST...
Berikut hasil jepretan iseng saya (hehehe. Maaf ya, namanya juga "iseng jepret", wajar kalau objek gambar tidak melihat ke arah kamera... :P)
Maaf ya, low quality...
Bahkan untuk mencapai lantai 6, kami menaiki eskalator yang belum dinyalakan (begitu pula dengan lift). Sama saja dengan naik tangga. Belum apa-apa, kami sudah berkeringat. Satu-satunya tempat paling terang saat itu, tentunya bioskop Cinema 21.Dan sekali lagi, syukron Pak Malik… :D

            Terakhir, rihlah. Kami ke Bali!! XD Hehehe. Yang bener, ke Bali View. Itu lho, kolam renang yang di Ciputat… :D (gubrak!) Kami berdelapan dengan Bu Nanik, main air dan rame sendiri (wkwkwk). Seru, pastinya! (hontou ni? /masa’ sih?) Pemandangan 7 bocah berbaju renang hitam seragaman bermain-main seperti anak kecil, cukup meramaikan kolam renang itu… wkwkwk.
Berikut hasil jepretan low quality saya. Oiya, jangan liat 'background manusia'-nya, ya. Hehehe.




            Dan yang paling mengganggu pikiranku selama liburan lalu: LPJ. Aku harus membuat Laporan Pertanggung Jawaban di saat flashdisc rusak permanen. Memikirkannya setiap hari, jadi dihantui rasa bersalah dan takut tidak bisa kelar... :(
            Liburan lalu, yang paling ramai dibicarakan adalah… Timnas! Timnas Indonesia yang sukses mengalahkan Malaysia 5-1, mengalahkan Thailand 2-1, dan mengalahkan Filipina agregat 2-0. Kok bisa sih?! (lho?) Hehe. Memang luar biasa, sampai-sampai aku yang seperti “ini” ikut nonton bola. Hahaha ^^
            Tapi beda dengan pertandingan terakhir, Indonesia vs. Malaysia babak kedua. Sumpah, nggak kuat nonton! Sibuk gemetaran dan tegang sendiri, benar-benar saya ini! ;P Meski menang tapi tidak juara, Indonesia pastinya selalu di hati! ;)
Yang menyedihkan, di liburan ini sakit harus datang melanda… hiks TToTT
Sekian post saya kali ini, kurang lebihnya mohon maaf, wassalamu’alaikum… :D