Kamis, 25 Agustus 2011

Kultum di Suatu Hari

Kalau tidak salah, hari itu tanggal 16 Agustus 2011.


Ba'da sholat Zhuhur, Masjid Ulul Albab, SMP Islam Plus Baitul Maal.


Waktu sudah menunjukkan waktu pulang, lebih tepatnya waktu Pertemuan Wali Kelas. Namun kultum belum diperdengarkan. Tadinya Pak Halim ingin langsung menutup acara --bisa dibilang 'Jelang Siang', mungkin-- tanpa mendengarkan kultum, namun siswa-siswa ikhwan berseru:


"Kultum-nya bagus, Pak!"


Dan akhirnya, kultum tetap terlaksana. Seorang siswa maju mengisi kultum.
Aku jadi penasaran, apa iya kultumnya bagus (nggak maksud meremehkan kok, cuma jarang aja ada kultum yg bagus wkwkwk).


Awalnya aku benar-benar memerhatikan. Namun setelah kalimat-kalimat pertama (setelah pembukaan), mataku melebar dan aku menunduk.


Perasaanku tiba-tiba kacau. Aku tidak mau mendengar ini.


Perasaanku sangat kacau secara tiba-tiba, hingga aku lupa cara penyampaian kultumnya.
Yang kuingat hanyalah:


Menggambar itu dilarang dalam Islam.
Kita sebagai muslim hanya boleh menggambar benda mati seperti pohon.
Apabila di dunia kita menggambar makhluk hidup, maka di akhirat nanti kita akan diminta untuk memberikannya nyawa.
Barangsiapa yang di rumahnya terdapat gambar-gambar, maka malaikat enggan memasukinya.


Pelukis akan masuk neraka.


Hatiku sakit. Mungkin berlebihan, tapi itulah yg kurasakan. Ekspresiku saat itu... ah, aku nggak tau lagi. Mungkin tingkahku seperti tokoh Lee Soyeong (Jang Nara dalam "Babyfaced Beauty"), salah tingkah. I like that expression from her.


Aku suka menggambar. Sangat, sangat suka. Dari kecil, menggambar selalu menjadi hobiku, meski kadang aku tidak menyadarinya.

Aku selalu mengungkapkan perasaanku lewat gambar. Kalau sedang senang, aku menggambar karakter dengan wajah ceria. Dan kalau sedang sedih, aku menggambar karakter yang sedang sedih, bahkan menangis --sebagai pengganti diriku.


Dan sekarang kultum itu bilang kalau selama ini yang kulakukan adalah salah. Jujur saja, sulit sekali menerimanya.


Sebenarnya, aku tahu kalau menggambar itu nggak boleh. Saat itu aku masih kelas 5 SD, dan gambarku masih berbeda. Dulu karakter yg kugambar tidak memiliki hidung, karena aku merasa aneh kalau ada hidung. Aku bukan penggambar hidung yang baik. Jadi, waktu itu kupikir 'kalau tidak sempurna, nggak apa-apa, kan?'


Namun sekarang, aku tertantang untuk menggambar hidung dan telinga. Masa' gambarku tidak meningkat selama bertahun-tahun? Tentu saja, bagi seorang pelukis, itu memalukan.


Barangsiapa yang di rumahnya terdapat gambar-gambar, maka malaikat enggan memasukinya. 


Aku teringat kamarku yang penuh dengan manga alias komik Jepang. Sebenarnya sih nggak penuh-penuh amat. Tapi aku nggak tega membuangnya.

Setelah kultum, aku ingin menangis. Tapi nggak bisa. Aku hanya bisa menahannya, sementara ada ikhwan yang berseru:


"Denger, tuh! Menggambar itu nggak boleh!"


Aku tambah sedih. Kurasa aku bisa menangis di rumah nanti.

Tapi aku nggak mau jadi lemah begitu. Sepulang sekolah, tepatnya sebelum tidur malam itu, aku jadi sangat bersemangat menggambar. Alias melanjutkan karya yang selalu lambat update (ce'ilah sok banget dah).


Sampai sekarang aku masih sedih, namun aku justru berterimakasih pada kultum itu.


Terima kasih, karena berkat kau semangat menggambarku jadi naik drastis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar