Kalau tidak salah, hari itu tanggal 16 Agustus 2011.
Ba'da sholat Zhuhur, Masjid Ulul Albab, SMP Islam Plus Baitul Maal.
Waktu sudah menunjukkan waktu pulang, lebih tepatnya waktu Pertemuan Wali Kelas. Namun kultum belum diperdengarkan. Tadinya Pak Halim ingin langsung menutup acara --bisa dibilang 'Jelang Siang', mungkin-- tanpa mendengarkan kultum, namun siswa-siswa ikhwan berseru:
"Kultum-nya bagus, Pak!"
Dan akhirnya, kultum tetap terlaksana. Seorang siswa maju mengisi kultum.
Aku jadi penasaran, apa iya kultumnya bagus (nggak maksud meremehkan kok, cuma jarang aja ada kultum yg bagus wkwkwk).
Awalnya aku benar-benar memerhatikan. Namun setelah kalimat-kalimat pertama (setelah pembukaan), mataku melebar dan aku menunduk.
Perasaanku tiba-tiba kacau. Aku tidak mau mendengar ini.
Perasaanku sangat kacau secara tiba-tiba, hingga aku lupa cara penyampaian kultumnya.
Yang kuingat hanyalah:
Menggambar itu dilarang dalam Islam.
Kita sebagai muslim hanya boleh menggambar benda mati seperti pohon.
Apabila di dunia kita menggambar makhluk hidup, maka di akhirat nanti kita akan diminta untuk memberikannya nyawa.
Barangsiapa yang di rumahnya terdapat gambar-gambar, maka malaikat enggan memasukinya.
Pelukis akan masuk neraka.
Hatiku sakit. Mungkin berlebihan, tapi itulah yg kurasakan. Ekspresiku saat itu... ah, aku nggak tau lagi. Mungkin tingkahku seperti tokoh Lee Soyeong (Jang Nara dalam "Babyfaced Beauty"), salah tingkah. I like that expression from her.
Aku suka menggambar. Sangat, sangat suka. Dari kecil, menggambar selalu menjadi hobiku, meski kadang aku tidak menyadarinya.
Aku selalu mengungkapkan perasaanku lewat gambar. Kalau sedang senang, aku menggambar karakter dengan wajah ceria. Dan kalau sedang sedih, aku menggambar karakter yang sedang sedih, bahkan menangis --sebagai pengganti diriku.
Dan sekarang kultum itu bilang kalau selama ini yang kulakukan adalah salah. Jujur saja, sulit sekali menerimanya.
Sebenarnya, aku tahu kalau menggambar itu nggak boleh. Saat itu aku masih kelas 5 SD, dan gambarku masih berbeda. Dulu karakter yg kugambar tidak memiliki hidung, karena aku merasa aneh kalau ada hidung. Aku bukan penggambar hidung yang baik. Jadi, waktu itu kupikir 'kalau tidak sempurna, nggak apa-apa, kan?'
Namun sekarang, aku tertantang untuk menggambar hidung dan telinga. Masa' gambarku tidak meningkat selama bertahun-tahun? Tentu saja, bagi seorang pelukis, itu memalukan.
Barangsiapa yang di rumahnya terdapat gambar-gambar, maka malaikat enggan memasukinya.
Aku teringat kamarku yang penuh dengan manga alias komik Jepang. Sebenarnya sih nggak penuh-penuh amat. Tapi aku nggak tega membuangnya.
Setelah kultum, aku ingin menangis. Tapi nggak bisa. Aku hanya bisa menahannya, sementara ada ikhwan yang berseru:
"Denger, tuh! Menggambar itu nggak boleh!"
Aku tambah sedih. Kurasa aku bisa menangis di rumah nanti.
Tapi aku nggak mau jadi lemah begitu. Sepulang sekolah, tepatnya sebelum tidur malam itu, aku jadi sangat bersemangat menggambar. Alias melanjutkan karya yang selalu lambat update (ce'ilah sok banget dah).
Sampai sekarang aku masih sedih, namun aku justru berterimakasih pada kultum itu.
Terima kasih, karena berkat kau semangat menggambarku jadi naik drastis.
Kamis, 25 Agustus 2011
Pernah Merasa Cukup?
Udah lama banget nih nggak nge-post... Maklum, saya pemalas dan pelupa (tiap kali mau nge-post, lupa teruus). Setelah membaca judul post ini, kesannya saya lagi galau ya? Nggak juga kok *siapa peduli*
Hafizhoh Nur Azimah adalah seseorang yang selalu dihantui PENYESALAN.
Kenapa tadi aku begini? Kenapa aku begitu? Harusnya aku nggak ngomong begitu! Harusnya...
Penyesalan selalu datang di akhir. Kalau tidak datang di akhir, namanya BUKAN penyesalan *ini orang ngapain sih*
Penyesalan itu membuatku membenci diri sendiri, dan perlahan-lahan membuatku merasa NGGAK PENTING. Aku tahu aku tidak boleh begini, tapi aku tak bisa memungkiri kenyataan bahwa aku SELALU menyesal.
Maafkan aku kawan-kawanku, saudara-saudaraku, dan semua orang yg mengenalku... Aku punya banyak banget kesalahan pada kalian. Dan, aku selalu menyesalinya. Sungguh.
Pernahkah kamu merasa cukup? Kita pasti menginginkan yang lebih, lebih, dan lebih.
Kadang aku takut berharap dan bermimpi. Takut dikecewakan, takut mempermalukan diri sendiri.
Galaunya cukup sampai di sini, ya? Hehehe.
Hafizhoh Nur Azimah adalah seseorang yang selalu dihantui PENYESALAN.
Kenapa tadi aku begini? Kenapa aku begitu? Harusnya aku nggak ngomong begitu! Harusnya...
Penyesalan selalu datang di akhir. Kalau tidak datang di akhir, namanya BUKAN penyesalan *ini orang ngapain sih*
Penyesalan itu membuatku membenci diri sendiri, dan perlahan-lahan membuatku merasa NGGAK PENTING. Aku tahu aku tidak boleh begini, tapi aku tak bisa memungkiri kenyataan bahwa aku SELALU menyesal.
Maafkan aku kawan-kawanku, saudara-saudaraku, dan semua orang yg mengenalku... Aku punya banyak banget kesalahan pada kalian. Dan, aku selalu menyesalinya. Sungguh.
Pernahkah kamu merasa cukup? Kita pasti menginginkan yang lebih, lebih, dan lebih.
Kadang aku takut berharap dan bermimpi. Takut dikecewakan, takut mempermalukan diri sendiri.
Galaunya cukup sampai di sini, ya? Hehehe.
Tampang Tua
Sebagai pembukaan, aku punya pertanyaan:
"Apakah saya kelihatan tua?"
Agak konyol memang. Awalnya aku tidak ambil pusing, tapi lama-lama... Ahh~ :(
Biar ngerti, saya mau cerita dulu nih.
Kamis, 11 Agustus 2011 @ Masjid Sektor Sembilan Bintaro
Aku, Dea, Alifa, April, dan Talitha mau minta izin mabit di sini. Setelah itu, kami ikut sholat Ashar berjama'ah. Aku sholat di samping kiri seorang Ibu yang tak kukenal, sementara Alifa, Dea, dan April di samping kiriku.
Setelah sholat, aku bersalaman (dalam bahasaku: salim) dengan Ibu itu.
Ibu itu bertanya padaku:
"Santri di mana, mbak? Anak kuliah, ya?"
Aku sedikit terkejut (bengong sebentar), lalu menjawab.
"Eh? Saya masih SMP, Bu."
"Ooh..."
Jujur saja aku malah senang, karena berarti aku bisa bersikap dewasa. Tapi begitu kuceritakan pada yang lain, mereka tertawa terbahak-bahak dan berseru:
"Tampang tua!" sambil menunjukku. Jadi sedih (wkwkwk)
Ini baru yang pertama. Ada lagi nih.
Selasa, 23 Agustus 2011 @ depan Pos Satpam Komplek
Aku sedang menemani Alia (my little sister) jalan-jalan. She was soo excited.
Tiba-tiba Pak Satpam datang dengan motor. Setelah turun, beliau tersenyum pada kami. Aku balas tersenyum.
Beliau bertanya tiba-tiba, sambil menunjuk Alia:
"Anaknya sampeyan?"
JLEB!
Sungguh, dalem banget. Aku terdiam sebentar, lalu menjawab,
"Bu-bukan, adik saya..."
"Ooh..."
Ternyata masih belum cukup. Sedihnya, masih ada satu lagi.
Selasa, 23 Agustus 2011 @ Masjid At-Tawwab (Al-Bayan Islamic School)
Ada acara Ifthor Jama'i di sekolah Musyaffa', dan kami sekeluarga sekalian mau ke Giant setelah mengantarnya ke sekolah. Waktu Ashar tiba tak lama setelah kami sampai di sana, jadi kami ikut sholat berjama'ah di masjid ini.
Adzan Ashar sudah berkumandang, jama'ah mulai berdatangan. Aku sedang menemani Alia jalan-jalan keliling masjid. Dan seorang anak perempuan berbaju putih menghampiri kami.
Dia gemes banget sama Alia, dia senyum dan sambil mendekap Alia, di bertanya padaku:
"Tante, ini adiknya siapa?"
JLEEBB..........
Aku kesal, tapi mau bagaimana lagi. Aku jadi salah tingkah dan refleks menjawab "adikku". Padahal aku tahu maksudnya 'siapa' itu, yaa, siswa Al-Bayan.
Setelah mendengar jawabanku, sepertinya dia merasa bersalah. Lalu dia berkata, "ooh, Kakak sudah SMP, ya."
Kurasa dia berusaha menghiburku. Setelah itu, dia menggendong Alia dengan senang. Setelah itu, dia bertanya padaku:
"Tan-- Kakak nggak sholat?"
Duh, sesulit itukah memanggilku 'kakak'?
Yah~ begitulah.
Kejadian ini terjadi bertubi-tubi, dan membuatku heran.
Mungkin tampangku memang tua... *pasrah
"Apakah saya kelihatan tua?"
Agak konyol memang. Awalnya aku tidak ambil pusing, tapi lama-lama... Ahh~ :(
Biar ngerti, saya mau cerita dulu nih.
Kamis, 11 Agustus 2011 @ Masjid Sektor Sembilan Bintaro
Aku, Dea, Alifa, April, dan Talitha mau minta izin mabit di sini. Setelah itu, kami ikut sholat Ashar berjama'ah. Aku sholat di samping kiri seorang Ibu yang tak kukenal, sementara Alifa, Dea, dan April di samping kiriku.
Setelah sholat, aku bersalaman (dalam bahasaku: salim) dengan Ibu itu.
Ibu itu bertanya padaku:
"Santri di mana, mbak? Anak kuliah, ya?"
Aku sedikit terkejut (bengong sebentar), lalu menjawab.
"Eh? Saya masih SMP, Bu."
"Ooh..."
Jujur saja aku malah senang, karena berarti aku bisa bersikap dewasa. Tapi begitu kuceritakan pada yang lain, mereka tertawa terbahak-bahak dan berseru:
"Tampang tua!" sambil menunjukku. Jadi sedih (wkwkwk)
Ini baru yang pertama. Ada lagi nih.
Selasa, 23 Agustus 2011 @ depan Pos Satpam Komplek
Aku sedang menemani Alia (my little sister) jalan-jalan. She was soo excited.
Tiba-tiba Pak Satpam datang dengan motor. Setelah turun, beliau tersenyum pada kami. Aku balas tersenyum.
Beliau bertanya tiba-tiba, sambil menunjuk Alia:
"Anaknya sampeyan?"
JLEB!
Sungguh, dalem banget. Aku terdiam sebentar, lalu menjawab,
"Bu-bukan, adik saya..."
"Ooh..."
Ternyata masih belum cukup. Sedihnya, masih ada satu lagi.
Selasa, 23 Agustus 2011 @ Masjid At-Tawwab (Al-Bayan Islamic School)
Ada acara Ifthor Jama'i di sekolah Musyaffa', dan kami sekeluarga sekalian mau ke Giant setelah mengantarnya ke sekolah. Waktu Ashar tiba tak lama setelah kami sampai di sana, jadi kami ikut sholat berjama'ah di masjid ini.
Adzan Ashar sudah berkumandang, jama'ah mulai berdatangan. Aku sedang menemani Alia jalan-jalan keliling masjid. Dan seorang anak perempuan berbaju putih menghampiri kami.
Dia gemes banget sama Alia, dia senyum dan sambil mendekap Alia, di bertanya padaku:
"Tante, ini adiknya siapa?"
JLEEBB..........
Aku kesal, tapi mau bagaimana lagi. Aku jadi salah tingkah dan refleks menjawab "adikku". Padahal aku tahu maksudnya 'siapa' itu, yaa, siswa Al-Bayan.
Setelah mendengar jawabanku, sepertinya dia merasa bersalah. Lalu dia berkata, "ooh, Kakak sudah SMP, ya."
Kurasa dia berusaha menghiburku. Setelah itu, dia menggendong Alia dengan senang. Setelah itu, dia bertanya padaku:
"Tan-- Kakak nggak sholat?"
Duh, sesulit itukah memanggilku 'kakak'?
Yah~ begitulah.
Kejadian ini terjadi bertubi-tubi, dan membuatku heran.
Mungkin tampangku memang tua... *pasrah
Langganan:
Postingan (Atom)